Selasa, 24 Juni 2008

Membeli Masa Depan.....

artikel bagus

semoga berguna


============================================================


Penulis : Adithya Mulya (penulis novel 'Jomblo', 'Gege Mengejar Cinta', dan

beberapa novel lainnya)

Sumber : blog Adithya Mulya


Membeli Masa Depan

Tuesday, February 26, 2008


Di Singapur sini kita bisa nonton RCTI dan SCTV. Di suatu malam gua lagi

memindai channel dan melihat sebuah iklan yang menggugah. Iklan itu adalah

iklan dari tabungan ……………………


Adegan pertama: Ada anak kecil lari-lari keliling meja makan. Di meja makan

itu, ada pasangan muda meminjam uang ke orang tua mereka dan ada insert

tulisan "Untuk biaya masuk SD". Di akhir adegan itu, kita melihat liontin

emas ibu muda.


Adegan kedua: pasangan tersebut sudah terlihat lebih dewasa dan sang ibu

melepaskan liontin emas itu dengan muka urung. Insert: "Untuk biaya masuk

SMP"


Adegan ketiga: Anak itu sudah dewasa, membuka garasi dan anak itu murung

melihat garasi mereka kosong. Sang bapak keluar dengan vespa. "Untuk biaya

SMA".


Adegan ini diakhiri dengan sang bapak hujan-hujan pergi kerja naik vespa, di

depan rumahnya ada tulisan "rumah dijual" insert: "untuk masuk kuliah"


Ini adalah satu iklan yang sangat-sangat kuat. Hati gua belum pernah ngerasa

terenggut melihat sebuah iklan. Bener banget.


Life is not a game. You can't restart your life. Once you make a mistake,

that's it. You're done. Apalagi hidup di Indonesia yang jujur saja, sangat

unforgiving. Gua pendukung SBY dan so far dia melakukan yang terbaik untuk

kita semua. Sayangnya orang-orang seperti Mega dan Amien Rais kerjanya

membuat sentimen negatif saja. Gak ngebantu. Kita ini gak akan pernah maju

jika pemimpin negara dibacokin orang-orang yang kerjanya pengen jadi

pemimpin negara.


Hidup untuk Masa Depan

Iklan di atas sempat membuat gua tidak tenang melihat apa yang sudah ada di

tangan. Tapi gua berusaha merasa qana'ah karena tidak ada yang lebih buruk

di hadapan Allah selain orang-orang yang kufur nikmat. Bener kata

temen-temen yang komentar di bawah bahwa kalo kita takut, kita tidak akan

pernah merasa cukup dan akhirnya menghabiskan waktu kita khawatir ketimbang

bersyukur.


Kita itu (seharusnya) hidup untuk masa depan. Bokap gua pernah ngasih tau

statistik di bawah:

5 dari 10 pensiunan hidup bergantung pada anak dan kerabat

2 dari 10 pensiunan masih harus kerja unutk membiayai sisa hidupnya

1 dari 10 pensiunan punya uang pas-pasan untuk mandiri setelah pensiun

1 dari 10 pensiunan punya uang berlebih di saat pensiun


(commented by leo: yang 1 lagi jangan ditanya yah..hehehe)


Mengerikan ya? Dari yang gua lihat dalam hidup, memang begitu. Sebenernya

bukan karena kita miskin-miskin amat sih tapi kita itu sering belanja

hal-hal yang kalo dipikir baik-baik, gak perlu.


Sekarang gimana caranya kita pensiun dengan baik? Dan di atas itu, membekali

anak dengan pendidikan yang cukup? Iya kalo anaknya satu. Kalo 3? Satu lagi

ungkapan yang gua pernah dengar yang sangat-sangat memotivasi gua untuk

nabung:


Kecil, gak nyusahin orang tua

Tua, gak nyusahin anak


Iya kalo anak kita sukses. Kalo gak sukses kan kasian dia. Mencukupi dirinya

sendiri aja mungkin susah, apalagi nalangin kita? Masa muda anak kita adalah

masa dia mencari penghidupan untuk mensecure hari tua dia, bukan hari tua

kita.


Nah gua mau share sesuatu di bawah. Bukan karena gua sukses melakukannya,

atau telah berhasil menyelesaikannya. Tapi gua pengen aja sharing karena

penting untuk diketahui dan semoga memberikan insight yang baik bagi yang

belum tahu.


Tentukan gaya Hidup Kita

Di umur 30 ini gua belajar begini: gaya hidup itu menentukan survivality

kita di hari tua. Maksudnya gini:


Ini skema hidup keluarga A

Gaji = 100%

Living cost yang kita jalankan selama ini = 80%

Tabungan = 20%


Guess what? Setelah pensiun nanti, A akan kesulitan mengadjust gaya hidupnya

karena setelah pensiun, dia gak punya atau punya sedikit income. Dan dia

harus hidup berbiaya 80%. Tapi masalahnya dia cuman punya 20%. Mending kalo

20% ini bisa nutupin basicnya, kalo nggak gimana?


Jadi yang perlu kita tentukan sekarang adalah bagaimana gaya hidup yang kita

inginkan dan berapa yang ingin kita tabung.


Basic Consumption & Life style

Persentase di atas tidak linier. Maksudnya, orang yang penghasilannya rendah

akan mencak-mencak melihat persentase di atas karena memang ada biaya hidup

pokok minimal. Mungkin bagi orang yang penghasilannya 20 juta setahun,

persentase di atas gak jalan. baca: minimum living cost katakanlah 10 juta

setahun. Jadi mending persentasenya kita kembalikan aja pada diri

masing-masing.


Yang berusaha gua jelskan di sini adalah, living cost itu ada dua komponen.


Living cost = lifestyle x basic consumption.


Contoh, orang sama-sama butuh mobil ke kantor. Yang satu beli mobil second,

yang satu beli Alphard. Orang sama-sama butuh dinner. Yang satu sering dine

out, yang satu masak.

Orang sama-sama butuh tas. Yang satu beli satu 60 juta, yang satu 600 ribu.


Basic consumption semua orang sama. Tapi yang membuat living cost kita

berbeda adalah gaya hidup kita. Apa beli tas mahal salah? Nggak kok.

Terserah, gua gak ngejudge. kalo memang mampu ya by all means, beli aja.

Hanya saja, di kebanyakan kasus, gaya hidup kita lah yang membuat living

cost tinggi. Bukan basic consumptionnya.


Bagi pembaca yang tergerak untuk menerapkan hal yang sama, harap diingat

bahwa makin banyak anak, ya gajinya makin terbagi kecil. Bisa jadi seperti

ini:


45% cost

35% pensiun

10% anak 1

10% anak 2


45% cost

30% pensiun

8% anak 1

8% anak 2

8% anak 3


Masalahnya dengan skema ini adalah, skema ini tidak berlaku pada keluarga

yang incomenya terlalu kecil. Gua pernah bergaji sangat kecil dan bahkan

untuk menghidupi diri gua aja susah.


Automate your Savings

Sekarang kita udah menentukan gaya hidup kita dan bertekad menabung beberapa

% income kita. Next step? Kebanyakan orang, termasuk gua, gak bisa nabung.

Beberapa orang bikin channel tabungan. Termasuk gua. Gua gak tau apakah ini

manjur karena resultnya kita lihat 25 tahun lagi tapi setidaknya ini yang

gua percaya dan gua lakukan.


Setelah menentukan berapa yang harus ditabung, kita otomatisasikan tabungan

kita. Manusia itu pada dasarnya susah nabung. David Bach dalam bukunya

'Automatic Millionaire' mengatakan bahwa semua pemerintah di dunia ini

langsung otomatis motong pajak dari gaji kita karena mereka tau kita suka

lupa bayar pajak. Hal yang sama kita terapkan saja pada diri kita. Kita bisa

request ke bank agar setiap tanggal 1, gaji kita dipotong ke tabungan

pensiun kita, ke tabungan pendidikan anak kita dan ke mana saja yang kta

mau. Akhirnya yang ada di tabungan utama hanyalah sisa untuk living cost

kita. Jadi di awal bulan, yang pertama kita amankan adalah masa depan kita,

bukan masa depan mango, zara atau honda jazz kita. Kalo tidak dipagari

seperti ini, kecenderungannya adalah habis. Untuk ini, gua rekomendasikan

banget buku David Bach 'Automatic Millionaire'


Security

Oke, sekarang ada tabungan pensiun. Bagus. Eh besok kita ditabrak bus.

Pupuslah harapan anak untuk terus sekolah. Istri juga kalo gak

berpenghasilan bisa repot. Yang tadinya kita bermimpi anak kita bisa sekolah

di universitas top indonesia, jadi bisa gak kuliah sama sekali.


Dan tahukah kita bahwa statistik membuktikan bahwa rata-rta suami meninggal

6 tahun lebih cepat dari istrinya? Dari sini datanglah pentingnya asuransi.


Gimana cara milih asuransi yang baik? http://priyadi. net sudah membahasnya

dengan baik. Mending baca di sana. Di sini, gua cuman pengen sharing apa

yang gua tau (yang mana sedikit), agar mungkin temen-temen bisa untung dari

sini.


Yang jelas, menentukan asuransi itu sebaiknya gini:


Uang pertanggungan = living cost / tahun x 20 tahun (atau terserah mau

berapa tahun).


Dengan formula ini, maka jika kita meninggal, insya allah keluarga kita

dapat hidup selama 12-20 tahun. Lho kenapa gak full 20 tahun? Karena

inflasi. Living cost tahun 2008 mungkin 4 juta. Di tahun 2020 bisa jadi 10

juta.


Masalahnya, makin tinggi uang pertanggungan, makin tinggi premi pertahunnya.

Untuk itu, menentukan nilai asuransi ini juga harus bijak dan harus dalam

kemampuan kita juga. Misalnya kita tabung 40% gaji. Kita split 40% ini jadi

10 dan 30.


30% pensiun

10% insurance

Toh keduanya sama-sama berbunga kok.


Dulu asuransi ini sepi peminat karena asuransi tidak melink dana kita ke

investasi. Yang ada, uang kita menyusut tanpa bunga. Mending taro di bank.

Gitu pikiran banyak orang. Sekarang unit link ini menjadi buruan banyak

orang. Gua dulu alergi yang namanya memercayakan uang keringet gua sama

asuransi. Sekarang kenapa tidak? Not bad kalo gua bilang. Jika kepala

keluarga meninggal, kepala keluarga akan mendapatkan mana yang lebih tinggi

antara uang pertanggungan dan nilai investasi. Lumayan kan? Btw,

http://priyadi .net sih tidak menganjurkan. Tapi gua sih merasa aman sekali

dengan skema ini.


You may disagree with this ya. Tapi gua sih jalanin.


Invest

Di posting gua yang terdahulu gua udah bilang bahwa musuh gua setidaknya

adalah inflasi. Mau income kita 1 juta per bulan atau 100 juta, kita taro di

bank, tetap aja kalah sama inflasi. Contoh:


Inflasi = 10%

Bunga bank = 2%

Tabungan kita = 1000

Harga telur 2007 = 1000

Harga telur 2008 = 1100

Uang kita 2008 = 1020

Tahun 2008 kita gak mampu makan telur.


Di sini lah pentingnya investasi. Instrumen investasi apa yang dipilih?

Beberapa sudah gua tulis di posting sebelumnya. Berapa yang mesti kita

invest? Nah ini tergantung dari seberapa ambisiusnya kita dalam hidup. Yang

jelas, ada beberapa pointers:


- asset & liability

Robert Kiyosaki dalam Rich dad poor dad bilang "rich dad buys assets. Poor

dad buys liability". Ini bener banget. Banyak sekali orang tua yang

menghabiskan uang 200 juta membelikan anak mereka mobil. Masalahnya, mobil

itu mengalami penyusutan 20% per tahun. Harganya tahun depan langsung 180

juta. Umur mobil juga 5 tahunan. Itu bukan aset. Itu liability.


Kalo memang ingin memberikan anak 200 juta, kenapa gak belikan dia rumah

susun? Atau BTN? "Nak, ini ayah belikan rumah 1 bukan untuk ditempatin. Sana

kamu kontrakin dan uangnya buat kamu tabung." Rumah, di 80% kasus, adalah

aset.


Aset adalah sesuatu yang memberikan kita return. Yang kalo kita jual lagi,

nilainya bertambah dan memberikan kita proft.


Liability adalah sesuatu yang setelah kita beli, nilainya susut. Yang kalo

kita jual lagi, kita mendapatkan loss.


- Biggest & Most Basic Investment

Hal pertama yang harus disukseskan dalam investasi, dan ini yang gua setuju

ya, terserah kalo gak setuju, adalah rumah. Direkomendasikan untuk rumah

sendiri. Jangan sampe ngontrak seumur hidup. Di kala kita ngontrak, kita

membuat orang lain kaya tanpa memberikan kita hak kepemilikan. Bisa-bisa

setelah pensiun, kita gak punya penghasilan untuk membayar kontraknya.

Setelah itu mau tinggal di mana?


Kalo kita cicil rumah, sejelek apa pun rumah itu, rumah itu adalah hak milik

kita. Tidak ada rasa aman yang lebih baik dari pada memiliki rumah tempat

kita tumbuh tua nanti.


Kalo nggak gini, kasian anak. Mereka nanti nikah dan butuh ruang, waktu dan

energi untuk membangun keluarga kecil mereka. Kalo kita tinggal bersama

mereka, kasian. Lenyaplah impian istri untuk ML di dapur huahahaha. Gak

deng. Memang di kebanyakan kasus, orang Indonesia menganut kebudayaan orang

timur di mana:


Ketika kita kecil, mereka merawat kita.

Ketika dia tua, kita merawat dia.


Ini sebabnya banyak sekali temen gua yang bungsu yang bersikeras gak mau

keluar rumah. Kasian ninggalin ibunya. Si bungsu lah yang bayarin listrik,

air, kabelvision dll.


Ini sebabnya banyak temen gua yang sering bilang "Udah, mamah di sini aja

sama saya"


Semua itu bagus. Semua itu mulia. Semua itu dianjurkan agama. Tapi semua itu

adalah cerita temen-temen gua yang mapan secara finansial dan berniat

mengembalikan budinya. Temen-temen gua yang kesulitan finansialnya? Well,

beda cerita.


Setidaknya di mata gua, sebagai anak yang baik, harus selalu siap untuk

menampung orang tua. Itu harus. Bokap gua menyisihkan 25% gajinya selama

belasan tahun untuk hidupi orang tua dia.


Tapi sebagai orang tua yang baik, rasanya gak tega ngeliat anak ngerawat

kita sementara dia bisa menghabiskan waktu muda dia mengejar impian-impian.

Makanya, invest your money. Nah sekarang pertanyaan, berapa yang mesti kita

investasikan dari income kita? Sekali lagi, terserah.


Tadi di atas sudah ada ini:

30% pensiun

10% insurance


Kenapa nggak,

10% atau 20% pensiun

10% insurance

20% atau 10% investasi


Ingat aja, makin kecil uang yang disisihkan untuk investasi makin lambat

investasi itu bisa berbuah. Kalo sisihan untuk invetasi terlalu kecil,

ditakutkan malah gak pernah terwujud impiannya. Contohnya, mau beli emas

batangan. Tapi harganya naik lebih cepat ketimbang jumlah uang yang kita

sisihkan perbulannya. Yang ada kejar-kejaran.


Hutang

Disarankan untuk jangan punya hutang, kecuali hutang itu untuk membeli rumah

perdana dan itu pun jangan terlalu banyak. Banyak orang yang bermimpi

memiliki rumah megah dan bersikeras beli cicil. Masalahnya,


Rumah gede = biaya maintenance gede

Rumah gede = cicilannya puluhan tahun


Temen gua ada yang lumayan jenius. Dia beli rumah kecil, 5 tahun lunas.

Sementara 5 tahun itu dia juga nabung dengan istri. Setelah lunas ternyata

mereka punya cukup tabungan untuk nyicil rumah ketiga yang lebih baik. Rumah

pertama mereka kontrakin dan mereka tinggal di rumah cicilan kedua. Sebentar

lagi meeka akan melakukan yang ketiga.


Ada lagi kasus yang lumayan miris. Rumahnya terlalu besar tapi gajinya

terlalu kecil, sehingga dia butuh 20 tahun untuk lunasin. Itu semua gajiu

habis hanya untuk rumah. Jujur aja, kalo cicilan sampe 20 tahunan, yang ada

kita bayar rumah itu 2x harga beli kita. 2 kali! Itu sama dengan kita beli 2

rumah! Tapi ini nggak. Akhirnya orang itu pensiun tanpa sempat menggunakan

uangnya untuk investasi.


Intinya, hutang itu boleh tapi terbatas dengan:


pembelian aset

pastikan beli rumah yang sesuai dengan gaji kita. Jangan ngoyo.

pastikan cicilannya tidak terlalu banyak sehingga kita masih punya umur

produktif untuk investasi yang lain juga.

Again, ini hanya dari pengalaman dan observasi pribadi gua. mungkin pembaca

yang berwawasan lebih, boleh kasih input. Biasanya syarat umum Bank di

indonesia adalah: uang cicilan = 1/3 dari income gabungan suami istri. Kalo

gitu, skemanya jadi berubah:


45% cost

33% cicilan rumah

8% anak 1

8% anak 2

6% insurance atau investasi atau pensiun


Skemanya terserah tapi kita bisa lihat bahwa semua komponen itu penting. Dan

bisa kita lihat juga bahwa adanya cicilan rumah benar-benar memotong

keleluasaan kita dalam berinvestasi kan. Dan bahkan untuk cicil rumah, bukan

gak mungkin kita harus memotong biaya hidup jadi lebih kecil dari 45%.

Makanya cicilannya jangan terlalu lama dan telalu besar.


Metode Yang Beda

Metode di atas hanyalah 1 dari jutaan metode yang kita bisa jalankan. Contoh

metode lain adalah:


1. 5 tahun pertama konsen beli rumah

2. 5 tahun kedua konsen nabung buat investasi

3. 5 tahun ketiga konsen nabung pensiun


Beberapa temen gua malah hanya bergantung pada jamsostek untuk pensiun. Uang

bebasnya semuanya dia investasikan di rumah kedua dan bilang "Ya ini sapi

pensiun gua." Agar nanti kalo udah pensiun, uang kontrakan rumah itu dapat

nyambung hidup dia.


Upside

Dengan cara seperti ini, orang biasanya lebih cepat mendapatkan

masing-masing target. 55% gaji dia dimasukin untuk investasi. Denga modal

sebesar ini, returnnya juga bisa besar dan lebih cepat. Sound good. Tapi ada

kelemahannya.


Downside

Kalo misalnya pas lagi ngejar lunasin rumah, kepala keluarganya meninggal,

gak ada dana back up dong.


Kalo misalnya pas 5 tahun investasi ternyata reksadana crash, habis semua

uang. Kalo 5 tahun nabung dollar ternyata dollar jadi 2000 perak, the end.

Lenyap udah itu semua.


Kalo misalnya keasikan beli rumah dan investasi, bukan gak mungkin kita

telat nabung buat pensiun. Kenapa sih pensiun itu penting meski sudah ada

investasi yang berbuah?


Karena kita tidak bisa memprediksi masa depan. Kita bergantung sama 3 rumah

kontrakan. Suatu hari 2 dari 3 digusur.


Intinya sih keuntungan dari diversifikasi adalah kalo kita sial di satu hal,

kita masih bisa bergantung dengan hal lain. Memang gak banyak, tapi itu

safe. Kerugian diversifikasi adalah menunggu semuanya berbuaha bisa belasan

tahun. Gimana nggak? Secepat apa kita bisa memperbaiki taraf hidup kalo kita

hanya mampu sisihkan gaji 2% untuk investasi?


Semuanya dikembalikan ke masing-masing lah. Gak ada yang benar dan salah.

Gua yakin semua yang baca blog ini by now sudah mikir, skema apa yang selama

ini mereka jalani dan gak defensif atau ofensif jika tidak setuju dengan

penjelasan di atas. Toh semuanya dikembalikan ke diri dan kondisi

masing-masing yang mana kondisi itu gak mungkin sama.


Gua sendiri menjalankan sebuah skema. Gua gak tau apakah skema itu akan

berhasil. Yang penting, kalo niatnya baik, ikhtiarnya giat, dan sabar

menghadapi cobaan, itu berarti kita sudah menjalankan skemanya dengan benar.


Penutup

Yang jelas, gua berpegang sama proverb di bawah:


Kecil, gak nyusahin orang tua

Tua, gak nyusahin anak


Kita Sebagai Anak

Sadarkah kita kenapa orang tua naik haji di usia senja? Karena orang tua

kita ingin memastikan dulu kita mentas. Betapa mulianya ya mereka.


Sekedar sharing aja, temen gua dulu ada yang ngobat. Sekarang nyesel seumur

hidup. Dia nyesel karena sampai akhir hayat mereka sang orang tua tidak

pernah sempat menunaikan ibadah haji. Kenapa? Karena tabungan haji mereka

habis membayar rehab temen gua. Setelah sembuh mentas dan kerja, hal pertama

yang temen gua lakukan adalah haji dan mendoakan mereka.


Dari dia gua belajar untuk sebisa mungkin gak pernah nyusahin orang tua.

Kalo gak bisa sukses, minimal gua gak bikin mereka sedih.


Kita Sebagai orang tua

Tantangan tiap jaman itu beda. Dan semakin ke sini, semakin hebat. Dulu

bapak kita cukup dengan S1 dan dapat berkarir seorang diri membiayai semua

keluarga.


Jaman kita? Dibutuhkan suami dan istri untuk kerja mencukupi kebutuhan

hidup. Belum lagi kualifikasi sekarang banyak yang harus S2. Ambil koran,

baca bagian karir dan hiotung berapa banyak yang kualifikasi S2? Chances

are, many. Dan supply lulusan S2 pun banyak yang masih struggle

mendapatkannya (yang mana menjadi constant reminder gua untuk harus sekolah

lagi).


Jaman anak kita? Gak kebayang kan? Ini sebabnya pensiun itu sangat penting.

Anak-anak kita menghadapi apa yang tidak terbayangkan oleh kita susahnya

gimana. On top of that, mereka harus mencukupi diri mereka sendiri. Memang

gua yakin banget kita sebagai masyarakat timur, mereka pasti tidak keberatan

mengurusi kita. Masalahnya, kitanya tega gak?


Kecil, gak nyusahin orang tua

Tua, gak nyusahin anak


Ada mau sharing bagaimana bentuk pembelian masa depan yang lain?